Pengalaman Panti Asuhan



 “EXPERIENCE IS THE BEST TEACHER”

            Kalimat itu memang benar adanya, tidak hanya sekedar kalimat mutiara biasa. Saya sudah membuktikan kebenaran kalimat tersebut berkali-kali. Kalian pasti juga kan ? saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman saya saat mengunjungi panti asuhan bersama sahabat dekat saya.

            Setiap hari libur Nasional, saya dan teman saya selalu punya rencana untuk mengunjungi suatu tempat tertentu. Entah pameran buku, pameran budaya, atau tempat yang belum pernah saya kunjungi. Waktu itu, teman saya berinisiatif untuk mengunjungi Panti asuhan anak dan bayi. Ia searching panti  asuhan yang memang ada anak dan bayinya. Kami menemukan di daerah dekat dengan jl.A.Yani. teman saya yang menyetir motor, saya yang searching lewat google maps.

            Kami berhenti di pinggir jalan karena tidak menemukan panti asuhan yang diarahkan oleh Mbah Google. Sekitar sepuluh menit saya utek-utek Hp. “udah bener tujuannya, tapi kok nggak kelihatan ada panti asuhan disini.” Ujar saya pada teman saya yang saya panggil dengan mimih itu. Akhirnya mimih menoleh ke kanan, “oohh... itu bukan panti asuhannya ?” kami menepuk jidat bersamaan. Kadang kita jangan terlalu mengandalkan google. Padahal dari tadi kami berhenti di sebrang panti asuhannya. Baru ngeh kalau panti asuhannya ada di sebrang kami.

            Kami disambut dengan wanita muda dan tidak berkerudung setelah menekan bel panti asuhan yang berpagar besi itu. Dia bertanya pada kami, ada perlu apa kami datang ke panti asuhan dan apakah kami sudah ada janji. Teman saya menjelaskan bahwa ini hanya kunjungan kami pribadi saja, ingin main ke panti asuhan. Teman saya sudah telfon tapi di panti asuhan pusatnya, bukan yang disini. Kami di persilahkan masuk di kantor panti asuhan. Wanita yang menyambut kita tadi memanggil ketua pantinya. Saya melihat foto-foto yang di dinding. Seketika saya melongo melihat salah satu tulisan yang di pajang di pigora besar yang isinya Lambang salib besar dan kata-kata dari al-kitab injil. Oohh...jadi yang kami datangi ini panti asuhan kristen toh, mana kami tahu.

            Perempuan paruh baya masuk kantor bersama lelaki paruh baya juga. Saya lupa nama mereka berdua. Kami serah terima buah tangan yang kami bawa. Masak iya ke panti tanpa bawa apa-apa. Btw, yang beli semuanya mimih. Hehe, setelah berbincang panjang lebar dengan ketua panti, kami minta izin untuk bertemu dengan anak-anak panti. Kami di antar keliling panti asuhan, mulai dapur, aula, sampai kamar anak-anak. Kami menemui seorang bayi lelaki yang baru bisa tengkurap, ia ganteng, imut, betapa kejamnya orang tuanya yang menyerahkannya ke panti asuhan. Meski kami tidak bisa menyentuh bayi itu secara langsung karena terhalang kaca, tapi saya bisa melihat sinar dari mata bayi itu bahwa ia tidak berdosa. Betapa miris hati ini melihat anak-anak yang tidak berdosa harus menanggung dosa orang tuanya.

            Dari keterangan ketua panti, kami baru tahu kalau menyerahkan anak ke panti asuhan tidak semudah menyerahkan anak ke sekolahan untuk di didik. Pihak panti berhak mendatangkan beberapa sanak keluarga dari bayi atau anak yang akan di serahkan, selain pihak panti meminta berkas-berkas resmi, mereka mengintrogasi pihak keluarga kenapa bayi itu di serahkan. Pihak panti memberi pengertian kepada keluarga bahwa anak-anak butuh keluarga. Dari sekian pihak keluarga yang ingin menyerahkan anaknya ke panti, ada juga keluarga yang tidak jadi meneyerahkan anaknya ke panti setelah diberi pengertian oleh pihak panti. Kebanyakan anak yang di serahkan di panti berasal dari hubungan remaja yang belum menikah, karena keluarga tidak ingin menaggung aib, makanya diserahkan ke panti asuhan.

            Saya jadi penasaran, apa anak-anak tidak mencari sosok orang tua atau keluarga, ternyata setelah umur 4-5 tahunan mereka baru menanyakannya. Dan yang memberi pengertian adalah kakak kelas sekamarnya, karena di dalam satu kamar panti, pasti ada satu senior panti yang mengasuh anak-anak yang umurnya dibawahnya. Padahal diluar sana anak yang masih sekolah enjoy-enjoy nya menikmati jerih payah orang tuanya, disini anak-anak mengasuh anak yang lain.
“maka, nikmat tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?” 

            Setelah kami melihat-lihat panti, kami kembali ke kantor lagi berbincang dengan ketua panti. Mereka berdua sangat-sangat berterima kasih atas kedatangan kami. Mereka juga menghormati kami yang muslim. Begitu juga sebaliknya, mereka bilang yang datang ke panti ini juga tidak hanya orang kristen saja, tapi orang muslim juga pernah berkunjung ke panti ini. Baiklah, meski kami datang kesini tidak mengetahui ini panti kristen apa enggak, Setidaknya saya dapat pengalaman baru, keberagaman dalam beragama tidak mengahalangi kerukunan warga indonesia. Saling menghormati, insya Allah sentosa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayo Pakai Bahasa Daerah

Pemburu Kuliner, Pendeteksi Lidah

Budaya berbahasa Daerah