Pemburu Kuliner, Pendeteksi Lidah


Saya, adalah pemburu berbagai kuliner yang belum pernah masuk ke lidah. Dan untungnya lagi, setiap teman jalan saya selalu setuju dengan pemburuan saya. Meski ada yang tidak setuju, saya akan meyakinkan dia kalau kita harus punya pengalaman nyobain berbagai kuliner yang belum pernah dicoba sama sekali. Mumpung masih muda dan sehat, hehe. Dan tentu saja kuliner yang saya buru harus halal.
                Saya sudah bisa mendeteksi makanan negara mana yang cocok dengan lidah dan perut saya. Kuliner barat sudah oke dengan lidah, seperti fast food, pizza dan kuliner barat yang lain yang umum ditemukan di Indonesia. Kuliner timur tengah malah cocok banget dengan lidah saya. Kebab, nasi kebuli, oke banget. Dulu saya kenal kebab dari novel KCB karya habiburrahman, waktu itu di Indonesia belum banyak yang jual kebab seperti sekarang ini. Makanan jepang juga sudah klop dengan lidah saya. Saya kenal masakan jepang juga dari buku. Eh, dari komik tepatnya. Betapa diriku ini latah sekali kalau soal makanan.
                Dan kuliner yang sejauh ini belum cocok dengan lidah saya adalah kuliner korea. Kesan ketidakcocokan saya sama masakan korea adalah karena rasa kimchi. Kimchi merupakan sayuran yang di fermentasikan dan dikasih bumbu. Bagi saya, rasa kimchi tidak ada bedanya dengan sambal mangga yang biasa dimakan dengan ikan bakar. Tapi rasa asam kimchi lebih asam, dan perih di perut. Kuliner dari negara lain yang belum saya coba adalah kuliner India. mulai dari sambar, idli, dan manisan bulat India. Masih belum menemukan Retoran India soalnya.

                Kegemaran saya berburu kuliner negara lain bukan berarti tidak mencintai kuliner negara sendiri. Justru makanan favorit adalah Kuliner khas desa saya sendiri. Yaitu bandeng sapit dan bongko mentok (O dibaca seperti baca bola, men seperti menjadi). Saya akan kasih Review nih, bandeng sapit adalah bandeng bakar yang dibumbui dengan bawang putih, bawang merah, kunyit, cabai merah, cabai rawit, gula dan garam yang dihaluskan. Bandeng dibakar setengah matang dulu terus ditempeli bumbu yang sudah di panasin lantas bandeng dibakar lagi. Dan yang khas dari bandeng sapit ini adalah tusuk ikannya yang panjang dan besar. Biasanya kalau ada walimah berkatannya ya pakai ikan bandeng sapit yang awet ini. Karena bumbunya sudah pedas, Biasanya saya makannya cuman sama nasi putih aja.

                Kalau yang bongko mentok nih, sejenis kue basah yang dibungkus daun pisang. Daun pisang dipotong persegi, dikasih adonan dari tepung terigu dan gula. Lalu diisi potongan daging ayam dan wortel seperti isi risoles. Setelah adonan diisi dan tertutup, lantas disiram santan sedikit lalu daun pisang direkatkan dengan lidi kecil, bentuknya seperti ikan botokan, setelah itu dikukus. Rasanya gurih-gurih nikmat. Biasanya disajikan untuk takjil.

                kalau saya pribadi sih, Masakan seafood seperti bandeng sapit atau yang lain lebih enak masak sendiri daripada beli di restoran. Karena desa saya termasuk desa yang banyak tambak ikannya. jadi keluarga saya otomatis ahli membuat masakan seafood. Cita rasanya khas. Memang, kuliner buatan rumah apapun itu pasti rasanya beda dari kuliner bintang lima. Lidah saya sudah bisa mendeteksi rasanya.
Kalau kamu, lidah kuliner rumah apa restoran nih?


#30DWC #JILID6 #SQUAD6 #DAY25 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fanfiction Conanian, Twin Mouri part 3

Ayo Pakai Bahasa Daerah

Pengalaman Panti Asuhan