Budaya berbahasa Daerah



                Di hari ke 23, saya menulis blog menggunakan bahasa jawa (http://retno30dwc.blogspot.com/2017/06/ayo-pakai-bahasa-daerah.html). Kenapa demikian? Karena saya ingin mengetahui kemampuan berbahasa daerah saya sekaligus rindu dengan budaya berbahasa jawa. Mulai dari menulis bahasa jawa, dialog bahasa jawa, dan apapun tentang bahasa jawa. Di kehidupan sehari-hari, terutama di rumah, keluarga saya memang menggunakan bahasa jawa. Tapi di lingkungan saya mengajar, sehari-harinya tidak menggunakan bahasa jawa. Semuanya menggunakan bahasa indonesia. Memang, bahasa indonesia adalah bahasa negara kita. Wajib juga menggunakan bahasa Indonesia.

                Tapi yang saya khawatirkan adalah budaya berbahasa daerah mulai luntur. Tidak hanya bahasa jawa saja yang saya maksud disini. Semua bahasa daerah yang kita miliki. Tapi saya mengambil contoh bahasa jawa yang merupakan bahasa daerah saya. Tadi pagi, saat saya menghadiri rapat kerja gabungan yayasan tempat saya mengajar, bapak kepala yayasan akan menambah jam pelajaran bahasa arab. Tapi dengan cara menghapus atau mengurangi salah satu pelajaran yang tidak begitu penting. Beliau mengatakan akan menghapus bahasa inggris, karena anak jaman sekarang sudah bisa belajar bahasa inggris dengan otodidak. Banyak yang tidak setuju. Okelah, saya memahami. Karena bahasa inggris memang dibutuhkan di jaman sekarang ini.

                Bapak ketua yayasan lantas bertanya kepada para guru. Pelajaran apa yang bisa dihapus. Dengan serentak para guru yang lain mengatakan BAHASA DAERAH. Seperti paduan suara jawaban mereka. Seketika saya merinding. Halo? Bahasa sendiri mau dihapus tapi bahasa asing dipertahankan? Saya mau interupsi tapi sepertinya saya sendirian. Dan alhamdulillahnya, bapak kepala tidak setuju dengan usulan para guru yang ingin bahasa daerah dihapus. Beliau mengatakan karena bahasa daerah lebih dibutuhkan di kehidupan sehari-hari kepada masyarakat, untuk mempermudah bergaul dengan masyarakat, orang tua bahkan, calon mertua. Hiyaaa....

                Tapi sungguh, bahasa daerah bisa menentukan kualitas seseorang. Saya punya teman yang ditolak menjadi calon mantu oleh ibu dari pacarnya. Karena dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan ibu pacarnya itu dengan menggunakan bahasa jawa. Nah loh? Lantas bagaimana dengan kualitas berbahasa daerah kita? Apa kita masih melestarikan budaya berbahasa daerah dengan orang yang lebih tua dari kita?

                Miris sekali melihat realita jaman sekarang yang anak mudanya pada mahir berbahasa asing, tapi bahasa daerahnya sendiri tidak bisa bahkan ada yang sok tidak mengetahui arti kata bahasa daerahnya sendiri. Tapi orang asing sangat tertarik dengan bahasa daerah kita. Contonya, pemilik akun ig @londokampung, orang asli australia yang bicara sehari-harinya menggunakan bahasa jawa ala surabaya. Logatnya juga kental sekali. Lalu pemilik akun ig @suku_dani. Dia bule yang videonya memakai bahasa papua dan logatnya juga papua. Bangga sih, bahasa daerah kita bisa booming ke orang asing. Nah kalau kitanya, bangga tidak punya bahasa daerah yang beragam di satu negara?

                Baiklah, cobalah sekali-kali atau sedikit demi sedikit kita bisa mengekspose bahasa daerah kita sendiri untuk upaya mempertahankan budaya berbahasa daerah kita. Kita bisa ukur sendiri kan kualitas berbahasa daerah kita dengan cara membiasakan diri untuk berbahasa daerah dengan orang disekitar kita? minimal dengan orang yang lebih tua dari kita. So, yuk lestarikan budaya berbahasa daerah.


#30DWC #JILID6 #DAY29 #SQUAD6

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fanfiction Conanian, Twin Mouri part 3

Ayo Pakai Bahasa Daerah

Pengalaman Panti Asuhan