Kampung Sarip (part 2)

        Sambungan day 20


            Dan saya baru sadar, apartemen itu bukan milik tambak oso. Sama sekali bukan. biarlah teman-teman pada mengolok-olok kalau tambak oso tidak ada ind*maret nya. toh, itu bukan sesuatu yang sekarang harus dibanggakan. Karena sesuatu yang bisa dibanggakan milik Daerah adalah bukan kecepatan pembangunan suatu gedung pencakar langit. Namun adalah bagaimana suatu daerah tersebut bisa mempertahankan potensi alamnya yang dimiliki hingga sekarang. Masa bodoh saya mikirin Apartemen yang ada di Desa sekarang yang sudah bertahun-tahun belum selesai juga. Toh saya bisa apa selain hanya mempertahankan yang masih tersisa?

            Kembali ke Desa saya yang lekat dengan legenda,
            Tambak oso, desa yang dikenal dengan kampung sarip. Legenda yang terjadi saat perang dengan belanda jaman dahulu kala. Kala itu, sarip adalah nama seorang warga tetangga desa yang terkenal sangat keji. Suka merampok dan jika tidak dikasih apa yang diinginkannya ia akan langsung membunuh orang tersebut. Namun ia punya satu kelebihan utama, yakni sangat taat kepada ibunya.  Suatu saat, sarip menghadang lurah desa tambak oso yang saat itu pulang dari Rapat dengan sepeda ontelnya. Beliau melewati tambak yang sepi dan ternyata dicegat oleh Sarip. Sarip meminta uang kepada beliau, tetapi beliau tidak memberikannya karena saat itu beliau memang tidak membawa uang sama sekali. Sarip jengkel dan langsung membunuh lurah desa tambak oso tersebut.

            Berita terbunuhnya kepala desa tambak oso yang bernama H.Yasin tersebut langsung tersebar luas bahkan ke telinga penjajah belanda yang saat itu sedang di daerah Tambak oso. Warga desa berusaha mencari Sarip yang ternyata bersembunyi disemak-semak tambak beberapa hari. Persembunyian Sarip diketahui oleh seorang anak kecil yang kala itu lewat didepan persembunyian Sarip. Sarip yang beberapa hari bersembunyi disitu ternyata sedang sakit dan meminta tolong kepada anak kecil tersebut untuk membelikan jamu. Anak kecil itu ketakutan dan langsung lapor ke warga desa yang kemudian Sarip langsung dibunuh.

            Sarip telah meninggal, ibunya yang tidak tahu menahu tentang meninggalnya Sarip berusaha mencari sarip berkali-kali. Dengan tanpa putus asa ibunya mencari sembari memanggil-manggil nama anaknya. Sarip lantas hidup lagi karena panggilan ibunya. Warga desa membunuhnya lagi tapi ia hidup lagi karena panggilan ibunya lagi. Sampai tiga kali. Warga yang kesal akhirnya membunuh sarip beserta Ibunya juga. Agar sarip tidak hidup kembali. Dan saya menangkap cerita Sarip dari sisi positif nya karena berbaktinya Sarip kepada Ibunya ini.

            Ini cerita legenda Sarip menurut versi nenek dari Ayah yang menceritakannya kepada saya langsung. Ada versi lagi yang mengatakan bahwa Sarip dulunya adalah seorang pahlawan. Wallahu a’lam... tapi yang saya percaya bahwa legenda itu benar-benar ada adalah dari bukti bahwa di Tambak oso ada jalan H.yasin yang mencakup RT 01 dan RT 02. Yang mana, H.Yasin masih kakek buyut tujuh turunan keatas dari saya. Yang Rumahnya masih ada sampai sekarang dan dihuni oleh saudara nenek. Dan Sarip, juga diabadikan menjadi jalan yang mencakup RT 07 dan RT 08.

            Setiap nama Tambak oso kecamatan Waru disebut, saat itulah orang menyebut Sarip Tambak oso. Karena sudah melegenda nama Sarip itu. Bahkan ceritanya yang unik sering dipentaskan menjadi Drama teater juga.

            Saya masih berharap legenda itu tidak akan pudar meski wujud desa sudah tak semenarik dulu lagi. Semoga saja tidak ada yang lupa akan legenda itu meski dengan versi yang berbeda. Setidaknya, meski kita tidak bisa mempertahankan Daerah kita secara fisik. Kita masih bisa mempertahankan legenda-legenda itu ataupun budayanya. Cintai daerah kita, cintai Indonesia kita.



Di tanah pertiwi, mereka menumpuk beton dan lainnya hingga tinggi.
Di tanah pertiwi, mereka berseru promosi. Menyampaikan maksud hati.
Bukan, bukan soal pemberontakan.
Namun hanya mengais kenangan.
Dimana dahulu kala betapa ringannya kaki berpijak diatas rumput yang manja nan elok rupa.
Bahkan mungkin mereka rindu akan gelitik tawa dan kayuan nakal tangan mungil bocah.
Bukan, bukan soal pemberontakan.
Namun hanya mengintip bilik kenangan.
Dimana dulu hidung menantang uap angin dari pohon yang rindang.
Namun yang terjadi bahkan tidak hanya sebaliknya,
Hidung pun kini sembunyi dibalik telapak tangan.
Bukan, bukan soal pemberontakan.
Namun hanya memutar lagu kenangan.
Dimana payung bapak ibu guru masih setia melindunginya dari gerimis menuju tempatnya mengajar.
Tapi kini muridnya ada yg tak menoleh karena harta yg mereka kejar.
Bukan, bukan soal pemberontakan.
Namun hanya mencoba bersua rindu pada kampung halaman.
Bukankah kamu sudah dipeluk kampung halaman ?
Iya, tapi bukan.
Yang kurindukan adalah kampung halaman yg penuh kenangan.
Yang dulu,
Tambak oso dahulu kala

Hanya mengintip kenangan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fanfiction Conanian, Twin Mouri part 3

Ayo Pakai Bahasa Daerah

Pengalaman Panti Asuhan