Kampung Sarip part 1


            Sekitar tahun 2016, waktu saya pulang ke rumah setelah sekian lama pesantren tidak juga libur, saya terkaget tatkala melihat Desa saya yang dahulunya didominasi oleh petak tambak dan pepohonan yang rindang tiba-tiba kini menjadi tanah kering, berdebu, dan ditengahnya ada tulisan baliho Raksasa bertuliskan ‘HONGKONG IN SURABAYA’. Dan saya baru tersadar kalau potensi alam dari desa saya lama-kelamaan akan hilang.
                                    
            Desa Tambak oso Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo yang letaknya sangat dengan Surabaya Timur dan dekat dengan Bandara Juanda itu menjadi incaran para investor, pembangun, pengembang, atau apalah itu namanya. Heran dah, mereka seperti tidak tahan melihat wilayah yang belum ada bangunan tingginya. Tapi sepenuhnya bukan salah mereka juga sih, para warga juga tergoyah jika tambak mereka ditawar dengan harga yang melangit.

            Dulu, waktu saya masih SMA, saya sering adu mulut sama salah satu teman cowok saya yang rumahnya daerah tebel, Buduran. Wilayah yang sudah maju sekali. Sudah seperti perkotaan saja. Dia sering mengolok saya begini “idiih, Tambak Oso ndeso, tidak ada Ind*maret nya.” okeee... dulu saya jengkel sekali, lantas saat tambak oso mulai proses membangun Apartemen baru. Saya bilang gini. “eh, Tambak oso memang nggak punya Ind*maret, tapi tambak oso punya apartemen.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fanfiction Conanian, Twin Mouri part 3

Ayo Pakai Bahasa Daerah

Pengalaman Panti Asuhan