Tempat Mewah (bagian 2)


Mewah, dalam KBBI adalah serba banyak; serba indah; serba berlebih (biasanya tentang barang dan cara hidup yang menyenangkan,barang serba berlebih). Serba lebih deh pokoknya. Lalu kalau tempat mewah, berarti suatu tempat yang serba indah. Selama 9 tahun saya hidup di tempat yang mewah. Tapi dalam bahasa saya dan teman-teman, tempat mewah yang kami tempati bukan tempat yang serba indah, namun mewah adalah kepanjangan dari MEpet saWAH. Disingkat jadi MEWAH.

Pesantren tempat saya nyantri dulu memang letaknya sangat mepet dengan sawah. Mepet dalam bahasa indonesia  artinya sangat dekat sekali sampai menempel. Memang, Jika nengok dari kelas ke jendela, maka akan terlihat hamparan hijau sawah dengan dihiasi gunung dengan kepulan kecil asap dari lumpur lapindo. Desa putat, Kecamatan Tanggulangin kabupaten Sidoarjo. Desa yang memojok dari kota Sidoarjo, yang sudah beberapa tahun ini menjadi jalur Alternatif kota Pasuruan. Jika kalian main ke putat dari kota Surabaya yang notabene panas sekali, maka kalian akan merasa sejuk saat masuk di desa putat yang masih ada Sawahnya. Sejuk, segar dan damai dari bising kendaraan. Terkadang saya suka heran, orang yang terbiasa hidup di kota pengen hidup di desa karena lebih tenang dan asri. Tapi orang desa, pengen hidup di kota yang serba ada dan instan. namanya juga manusia. Pasti ingin ngerasain apa yang tidak lagi dirasain.

Saya tidak begitu mengenal Desa Putat ini, karena kalian tau lah... di pesantren tidak begitu membebaskan santrinya untuk keluar dari wilayah pesantren. Namun sejak lulus dari sekolah dan menjadi semacam pengurus, saya mulai merasa menjadi orang putat Tanggulangin karena sering keluar untuk membeli kebutuhan Pesantren. Dan orang kampung juga hafal banget ciri-ciri anak pesantren. Tapi yang paling saya tau, Manba’ul Hikam yang berda di putat ini sungguh-sungguh sangat nyaman bagiku. Meskipun, para santri hanya tidur beralaskan ubin saja, tapi kalau sudah tidur sudah nyenyak pake banget. Apalagi saya, tidur di koridor yang bisa langsung melihat bulan dan bintang. bersama beberapa teman yang lain. Tapi Alhamdulillah, kami semua kuat dan jarang masuk angin. Walaupun di depan, orang luar tidak bisa melihat kami yang di koridor karena tertutup tembok.

Cara tidur tanpa kasur memang sangat efektif untuk tidak bermalas-malasan bangun sholat malam, karena memang desain nya pesantren dibuat untuk para santri agar tetap bersyukur, agar tetap ringan dekat dengan Allah tanpa harus tergoda dengan urusan Duniawi. Inilah kemewahan pesantren, yang berlebih fasilitas untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. agar senantiasa diberikan kemudahan dalam menuntut Ilmu.
                                

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fanfiction Conanian, Twin Mouri part 3

Ayo Pakai Bahasa Daerah

Pengalaman Panti Asuhan