kronologi menulis retno
Menulis,
salah satu hobi dan juga nafas saya selain membaca. Awal saya menyukai dunia
tulis menulis (bisa dibilang literasi juga siih) dimulai dari pelajaran bahasa
indonesia. Sejak SD sampai SMA, saya sangat menyukai pelajaran tersebut. Karena
apa ? ya karena pelajaran eksak bagi saya sangat sulit. Hehehe. Jadi saya
memutuskan bahasa indonesia jadi pelajaran terfavorit.
Dulu
sewaktu di pesantren, saya sangat suka membaca novel dan komik. Yah meskipun
minjam sih. Karena dulu belum cukup uang untuk beli novel dan komik. Mimpi buruk
di pesantren dimulai saat perombakan peraturan . Bacaan bacaan fiksi mulai di
haramkan masuk pesantren dengan tiga alasan. Pertama, mengganggu waktu belajar dan
kegiatan pesantren. Padahal eh padahal, membaca fiksi bagiku adalah hiburan
semata wayang di pesantren. Jangan tanya ada tv atau hape di pesantren. Ada sih
tv, tapi nyalainnya seminggu sekali dan itupun harus berdesak-desakan. Alasan
kedua, bacaan fiksi tidak ada faedahnya. Nah loh, kalo tidak ada faedahnya saya
sangat tidak terima. Lah selama ini buku fiksi yang saya baca berfaedah pakek
banget. Novel karya kang abik misalnya, novel yang lebih banyak ilmunya.
Ayat-ayat cinta, ketika cinta bertasbih, itu semua ilmu banget loohhh....temen
saya juga bilang “ saya bisa ngerti ilmu memancing dari komik detective conan
loh,”. Alasan yang ketiga, fiksi banyak unsur porno. Ini saya lumayan setuju
karena di beberapa genre tertentu memang ada. Tapi itu sedikit sekali.
Meskipun
saya dan teman-teman berusaha protes memakai argumen yang kuat pun, hasilnya
tetap nihil. Karena peraturan baru itu sudah disetujui oleh pak yai dan bunyai.
Sejak saat itu, saya berjanji pada diri saya sendiri “jika tidak ada bacaan
yang saya baca. Maka saya harus membuat bacaan sendiri.” Dan dimulailah saya
mencoba-coba buat cerpen, meskipun pada awalnya alurnya agak nggak jelas gitu
siih. tapi nggak apa-apa, temen temen yang lain pada pengen baca cerpen ngawur
saya dan alhamdulilah mereka mendukung. Saya jadi punya pembaca tetap. Lalu masuk
SMA, saya ditawari untuk jadi tim redaksi makalah dinding sekolah, dengan tanpa
kata tapi, saya langsung meng-iya-kan saja. Lumayan kan, masuk organisasi kece
gitu di sekolah.
Dimulailah
debut saya di dunia jurnalistik, karya dibaca banyak orang, siapa yang tidak
bahagia coba. Dan sejak itulah saya mencoba peruntungan diluar sekolah.
Mengikuti lomba cerpen dan mengirimkan tulisan-tulisan di koran jawa pos.
Hasilnya ? tidak pernah menang. Hehehe. Hasil di koran jawa pos ? entahlah,
saya kesulitan mendapat koran di pesantren.
Meski
saya sibuk di organisasi jurnalistik sekolah. Saya tetap menulis cerpen dan
cerita bersambung yang sampai saat ini ada yang masih belum saya selesaikan.
Masih tersimpan rapi di binder saya saat ini. Yah, salah satunya harapan saya
mengikuti tantangan menulis 30 hari yang dinaungi inspirator academy ini adalah
membangunkan mereka yang tertidur rapi di buku binder saya. Yakni cerita-cerita
bersambung yang masih sangat alay bahasanya. Agar bisa saya hidupkan kembali
dengan bahasa-bahasa yang baru dan lebih segar lagi.
Saya
sangat bahagia dan bersyukur sekali bisa berkesempatan mengikuti tantangan
menulis 30 hari ini. Karena hampir selama 2 tahun, saya sudah jarang mengasah
ide-ide saya. Sepertinya sudah mulai tumpul rasanya.
So, intinya saya bisa menulis karena desakan
dari lingkungan saya yang tidak memperbolehkan saya membaca fiksi hingga
akhirnya saya yang harus membuat cerita fiksi untuk hiburan. Apa kalian tidak
berfikir kalau saya ketahuan pengurus karena sudah membuat tulisan-tulisan
fiksi ? tidak, justru sebagian pengurus ada yang membaca tulisan saya karena
yang saya tulis tidak hanya cerita fiksi cinta-cintaan saja. Hingga saya
sendiri yang jadi pengurus di pondok
saya tetap membuat tulisan fiksi di buku binder. yang diharamkan membaca fiksi
novel dan komik. Bukan menulis nya kan ?
BalasHapusTerus berkarya mbgh neneng . kutunggu cerpen yg bukan hanya sempat qw bca di binder . ku tunggu yg bercetak.an juga
injeh dek siii....
Hapusdo'anya nggehh....
hehehehe