Dia Sudah Kembali
Dia sudah
kembali kepada kami.
Dia yang dulunya diperdebatkan
perihal dilepas atau digenggam.
Dia yang sepertinya sangat
merindukan kami.
Perihal kebersamaan, kerukunan, dan
canda tawa kami.
Kini aku menjenguknya, setelah
sekian lama tak bersua.
Dia sudah kembali,
Dia yang kini kebisingan karena
suara lalu lalang lewatnya kendaraan.
Dia sudah kembali, meski dia tak
seperawan dulu lagi.
Dia sudah kembali, meski untuk
sampai padanya
Harus melewati kolong tol beton.
Dia sudah kembali, meski pagar kawat
memutar padanya.
Betapa rindu itu nikmat jika sudah
terobati.
Kalimat itu saya tulis dengan sepenuh
hati setelah pulang dari tambak ikan milik keluarga kami. Kenapa saya begitu
merindukannya? Dua tahun lalu tambak yang berhektar itu di perdebatkan apakah dijual
atau tidak. karena keluarga kami membutuhkan
uang, akhirnya kami sepakat untuk menjualnya. Prosesnya sangat sulit sekali.
Mulai pengurusan hak waris karena kakek nenek sudah meninggal, minta tanda
tangan berbagai pihak, tanda tangan pejabat desa, kecamatan, dan entahlah saya
tidak tahu lagi. Namun yang saya tahu, itu semua juga membutuhkan uang jutaan
meski hanya minta tanda tangan kepada pejabat-pejabat wilayah. Belum lagi
mengurusi surat akta, nikah, KK, yang nama-nama keluarga saya hurufnya banyak
yang tidak sama antara satu surat dengan surat yang lain. Maklum, surat jaman
dahulu.
Setelah pengurusan waris selesai,
keluarga kami di kasih uang muka oleh si pembeli. Sisanya dicicil setiap bulan
karena jumlah uangnya juga lumayan besar. Saya sudah mengandai-andai kalau itu
tambak sudah beneran dijual, waah... pasti bisa beli ini dan itu sesuka hati.
Bisa umroh sekeluarga, beli tanah, beli mobil.
Lantas setelah satu tahun berlalu, ayah saya yang merupakan
anak pertama dari keluarganya didesak
oleh paman-bibi kapan uang selanjutnya di bayar. dengan susah payah ayah saya
mencari kepastian kepada si pembeli, namun akhirnya si pembeli tidak jadi
membeli tambak keluarga kami. Tentu saja uang muka yang dibayar dulu
dikembalikan. Pupus sudah harapan kami sekeluarga untuk umroh, beli ini dan
itu.
Yah, rencana
Allah pasti lebih indah, saya yakin itu.
Suatu sore, saya bersama teman saya jalan-jalan ke pasar sore
di daerah pondok chandra. Kami melewati jalan yang samping kanan dan kiri
berdiri bangunan apartemen yang baru dibangun. Yang dulunya itu adalah beberapa
petak tambak ikan. Salah satunya milik saudaranya nenek. Disana kami sering
bermain, bersepeda, naik rakit, bahkan menangkap ikan bersama saudara yang
lain. Kini semuanya hanya tinggal kenangan. Yang ada kini bangunan tinggi
menjulang berlapis beton dan kaca. Yang jika melewatinya harus menutup hidung
dan mulut sebab debu yang bertebaran.
Dan saya mulai sadar, jika tambak milik keluarga kami dijual,
perlahan-lahan kami membunuh potensi alam milik daerah kami yang dikenal banyak
tambaknya. Dari nama desa saya, Tambak Oso, sudah pasti orang tahu kalau desa
saya banyak Tambak ikannya.
Dengan senang hati, saat ayah dan paman akan menebar bibit
ikan ke tambak, saya langsung ikut. Rindu dengan suasana tambak dan semilir
anginnya. Jaraknya cuman sepuluh menit dari rumah. tapi yang saya kaget, perjalanan
ke tambak tidak seperti dahulu. Kini kami harus melewati bawah tol untuk sampai
ke tambak. Iya kalau tinggi kolongnya, kolongnya pendek sekali. kami harus menunduk sedikit agar tidak
terbentur beton tol. Setelah itu kami harus memutar karena ada kawat besi yang
entah kenapa ada disitu.
Saya mencium bau alam yang melekat kuat dengan hati saat
sampai di tambak. Mungkin karena saya lahir dan besar disini. Rasanya bahagia
seperti seorang kekasih yang merindukan pasangannya. *lebay. Padahal bagi
ayah-ayah di desa kami ini sudah biasa, karena notabene mereka bekerja merawat
tambak ikan mereka. Tapi bagiku yang sudah lama tidak ke tambak ini sungguh
luar biasa.
Satu minggu kemudian, kami sekeluarga besar berkunjung ke
tambak sambil masakan. Ambil ikan dari tambak, memasaknya di tambak, dan
langsung makan rame-rame menggunakan daun pisang. Nikmat sekali rasanya, sambil
rujakan kami bercerita tentang terakhir kali kami ke sini di dalam gubuk (rumah
kayu untuk istirahat dan menyimpan peralatan tambak). Cerita tentang sebelas
tahun yang lalu. Saat kami bermain rakit dan akhirnya terjatuh. Ah, mengulik
cerita lama selalu menarik.
Semoga tradisi masakan di tambak itu tetap utuh. Semoga sumber
daya desa kami masih ada, karena dari tambak pun, kami sudah bisa melihat tol
juanda yang kami lewati saat perjalanan ke tambak. Saya takut alam-alam indah
ini hilang berganti dengan bangunan-bangunan beton yang sudah merajalela di
desa kami.
Saya tidak bangga dengan adanya apartemen yang berdiri kokoh di daerah kami, saya tidak bangga dengan
rencana mereka yang akan menjadikan daerah kami HONGKONG IN SURABAYA. Yang tulisan itu pernah saya lihat sangat
besar sekali di tengah desa saya. Saya lebih bangga jika Desa Tambak Oso yang
terkenal dengan kampung sarip itu masih memiliki petak-petak tambak yang indah.
Komentar
Posting Komentar