Bangga jadi Santri, sampai mati. (bagian 1)
Santri,
identik dengan identitas dari kaum bersarung, berkopyah, berbaju koko,
berjilbab, dan kemana-mana membawa kitab kuning klasik. Pada dasarnya, santri
merupakan para pelajar yang sedang menimba ilmu. Sama seperti para pelajar
sekolah formal diluar sana. Tetapi itu hanya persamaan dasar. Jika di sekolah
luar kita pagi berangkat sekolah, di dalam sekolah belajar, istirahat, belajar
lagi terus pulang ke rumah, dan di rumah belajar hanya sekedar mengulang
pelajaran atau mengerjakan PR.
Namun para santri tidak hanya seperti itu,
para santri mayoritas tinggal di sebuah asrama atau biasa disebut pondok
pesantren. Semua aktifitas mulai dari bangun tidar, sampai akan tidur lagi
diikat dengan peraturan tegas beserta sanksi dari pesantren. Kegiatannya pun di
jadwal dengan teratur, jama’ah, mengaji Al-qur’an, mengaji kitab ma’na jawa,
Sekolah diniyah atau agama, sekolah formal, dan ekstrakulikuler penggali bakat
minat. Semua itu disuguhkan untuk para santri agar santri bisa memilih ilmu
yang diinginkan dan kelak jika sudah berbaur dengan masyarakat, santri bisa
menjadi manusia yang multi fungsi.
Itu merupakan perangkat keras dari
seorang santri yang banyak memiliki ilmu, baik ilmu formal ataupun agama.
Sedangkan perangkat lunak dari santri lebih membanggakan lagi. Dikarenakan
hidup jauh dari keluarga, para santri lebih mempunyai rasa kekeluargaan bagi
teman se-kamarnya. Kebiasaan santri hidup mandiri menjadikan jiwa mereka sangat
lunak.karena mereka mempunyai tiga rasa super. Pertama, mempunyai rasa ikut
memiliki (rumongso melu handarbeni), karena santri hidup bersama dalam satu
lingkungan dan fasilitas bersama. Milik umum adalah kewajiban semua untuk
dijaga.
Rasa super yang kedua, mempunyai
rasa ikut membela dan menjaga ( rumongso melu handarkebi) karena dalam satu
lingkup kamar/kelas ada anggota yang mempunyai tugas masing-masing dan membela
nama baik kamar/kelasnya untuk jadi yang terbaik diantara lainnya. Ketiga,
mempunyai rasa keberanian mawas diri untuk perbaikan (mulat sarita
hangrasawani) karena santri di ikat dengan peraturan dan jikalau di langgar ada
sanksi tegas, maka santri yang pernah berbuat kesalahan akan selalu memperbaiki
diri.
Masih banyak lagi keistimewaan
santri, salah satunya, punya sikap sopan santun luar biasa pada kyai,
keluarganya serta guru-gurunya. Bahkan sebelum belajar, para santri di biasakan
bertawashul atau kirim do’a pada pengarang kitab yang akan dikaji agar ilmunya
bermanfa’at. Kesabaran hati juga mantab tertanam dalam hati karena hidup
berbagi dengan banyak orang. Mungkin masih ada banyak sekali keistimewaan yang
belum terperinci. Tapi yang terpenting lagi, setelah keluar dari pesantren,
santri harus tetap menerapkan sifat dan sikapnya hingga akhir hayatnya agar
ilmunya tetap Barokah di mata Allah. Inilah hal yang dapat membanggakan
saya-seorang santri dan para santri lainnya agar tetap semangat, bangga, dan
tidak akan pernah menyesal menjadi seorang SANTRI.
Lantas, apakah santri itu makhluk
yang paling istimewa ? paling perfect ? NO NO NO... (tapi kalo menantu idaman, IYA *upss #kode hehehe ). Santri itu juga beragam jenisnya. Yang nantinya akan saya
bahas di lain waktu. So, jangan sampai ketinggalan....
#30DWC JILID 6 #SQUAD6 #DAY4
Komentar
Posting Komentar