Penggemar Pak Dahlan yang Gila


                 Dalam hidup ini, kita hidup sebagai manusia tidak lantas belajar sesuatu tanpa meneladani Seseorang. Pasti ada satu atau dua seseorang yang kita teladani. entah itu dari sifat, karakter, atau karyanya. Misalnya, orang islam nih. Yang diteladani adalah sosok nabi Muhammad SAW. Meskipun kita yang sebagai umat islam tidak bisa persis untuk meniru sifat Rasulullah. Setidaknya kita bisa meneladani beliau yang sempurna akhlaknya. untuk itulah saya memakai kata ‘meneladani’, bukan meniru.

                Nah, ngomon-ngomong tentang meneladani sifat seseorang nih. itu berarti secara tidak langsung kita menjadikan seseorang yang kita teladani sifatnya tersebut menjadi idola kita. Dalam aspek kehidupan, saya menerapkan konsep ‘idola’ dalam hidup saya. Ada beberapa sosok dari orang terkenal yang saya jadikan idola karena beberapa sebab. Kalau dalam kehidupan Islam, meneladani sifat Rasulullah adalah suatu keharusan. Karena Rasulullah adalah sebaik-baik suri tauladan yang baik. Yang akhlaknya merupakan cerminan dari Al-Qur’an. Untuk itulah, sebisa mungkin saya harus meneladani Rasulullah SAW.

                Dan kalau dalam hal tulisan, saya sangat mengagumi tulisannya bapak Dahlan Iskan. Pemilik perusahaan Jawa Pos. Alasannya simpel saja, karena tulisannya yang enak dibaca, mengalir dan renyah. Ngemil tulisannya Pak Dahlan seakan tidak ada kenyangnya. Sangking ngefansnya sama tulisan Pak Dahlan ini, saya hampir membaca seluruh buku karya beliau. Mulai dari ganti hati, pelajaran dari Tiongkok, menegakkan akal sehat, dan masih banyak lagi. Yah meskipun saya membaca bukunya dari hasil pinjaman.

                Setelah saya merasa enjoy membaca tulisan pak dahlan, saya mulai penasaran dengan kehidupan beliau yang kata guru saya sangat sederhana. Waktu menjabat sebagai menteri BUMN ataupun menjadi direktur PLN, kemana-mana memakai kemeja putih, celana hitam dan sepatu kets. Itu kata guru saya saat saya belum begitu mengenal beliau. Saya mencoba membaca novel tentang kehidupan beliau waktu masih kecil sampai beliau sukses menjadi pemimpin perusahaan jawa pos. Semua itu dimulai dari Nol oleh beliau. Semakin saya mendalami sosok Pak Dahlan ini, kekaguman saya kepada beliau semakin menggila. Melihat sekelebat namanya di manapun, saya langsung kepo. Apalagi kalau ada tulisan beliau di koran jawa pos. Tanpa a-i-u saya langsung membacanya. Walaupun tema yang diangkat berat, Justru saya semakin tertarik memebacanya. Karena ada kesan tersendiri didalam tulisan beliau.

                Kegilaan saya kepada Pak Dahlan semakin menjadi saat lulus dari sekolah SMA, tapi waktu itu saya tetap di pondok. Karena tidak diperbolehkan membaca fiksi di pondok, saya membaca tulisan non-fiksi Pak Dahlan yang sangat wow bagi saya. Saya sangat sedih saat tahu film Sepatu Dahlan tayang di bioskop dan saya tidak sempat melihat karena masih di Pondok. Tapi sekarang saya punya filmnya, yeey. ‘apa sih’. Baiklah, yang namanya kegilaan kadang sampai melebihi batas. Seperti seseorang yang gila pada pacarnya. Dan yang jomblo harap bersabar, ini ujian.

                Cerita gila saya kepada pak Dahlan ini sudah terdengar di telinga teman-teman dekat saya hingga seantero pesantren. Bagaimana tidak, banyak barang saya yang saya kasih foto pak dahlan. Mulai dari pintu almari saya tempeli foto beliau saat promosi film sepatu dahlan yang saya gunting dari koran, buku binder juga saya kasih foto beliau yang saya ambil dari koran juga.

 Ada seorang adik kelas yang cerita bahwa ibunya sering diundang mengaji di rumah pak dahlan. saya kepingin sekali ikut ngaji, biar bisa bertemu dengan beliau meskipun kemungkinan satu persen. Dan sebulan yang lalu ada undangan mengaji di rumah beliau tapi saya punya acara penting lain. Saat tim Jawa pos lagi mengadakan event di pesantren rasanya saya selalu bahagia, seakan ada harapan untuk bertemu beliau, toh nyatanya sampai sekarang belum pernah bertemu langsung dengan beliau. Waktu saya melihat acara di depan Gedung Graha pena, harapan bertemu beliau pasti ada. Terakhir kali harapan bertemu beliau saat saya datang ke acara islamic book fair yang ada di gedung DBL Arena. Sampai saat ini pun masih ada keinginan bertemu beliau. Sosok yang saya kagumi lewat karya dan kesederhanannya.

                Pernah juga dulu waktu masih ngetrennya BBM, nama BBM saya belakangnya saya kasih tambahan nama Iskan. Nama belakang dan juga nama bapaknya pak Dahlan. Ayah saya mengetahuinya dan patah hati sama saya. Ayah marahin saya kenapa pakai nama orang lain, kenapa tidak pakai nama Ayahnya sendiri. Saya berusaha menjelasin bahwa itu hanya candaan saja. Tapi ayah tidak mau tahu. Sejak saat itu saya dipanggil ‘anaknya pak dahlan’ oleh ayah saya sendiri. Betapa berdosanya saya. Akibat ngefans seseorang terlalu berlebihan. Saat saya mau kembali ke pesantren, saya minta uang jajan sebulan kedepan seperti biasa. Ayah saya nyeletuk “kenapa minta ke saya? Kenapa nggak minta ke pak Dahlan saja? Kamu anaknya Pak Dahlan kan?” astaga.... rasanya hati saya campur aduk, tapi ucapan ayah menyadarkan saya dari kegilaan ini. Hahahaha.

                Baiklah, ke-patah hati-an ayah saya tidak cukup sampai disitu. beberapa waktu yang lalu, sempat terjadi kasus penyelewengan dana BUMN oleh pak Dahlan yang saya juga kurang faham. Ayah selalu menggoda saya saat melihat berita tersebut, ya yang saya disuruh jenguk beliau lah, ya yang saya diomongin kenapa ngefans pak Dahlan yang korupsi itulah. Bagiku pak Dahlan masih orang baik kok, sampai sekarang. Biarlah orang berkata apa tentang Pak Dahlan, saya tetap kagum padamu pak, karena saya bukan penggemar abal-abal. Dan untuk Ayah, beliau masih Ayah yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Jadi don’t cemburu yah...


#30DWC #JILID6 #SQUAD6 #DAY24

Komentar